Bitter-sweet Croissant

Musim dingin di Paris selalu terasa lebih menggigit jika kau sendirian. Nana merapatkan mantelnya, duduk di sudut kafe kecil yang aromanya mengingatkannya pada toko roti keluarganya di Jakarta. Di depannya, layar ponsel menyala, menampilkan wajah Julian yang tersenyum lebar.
"Aku baru saja melihat resep croissant dengan isian truffle, Julian. Bayangkan kalau kita menjualnya di toko nanti," ucap Nana, matanya berbinar. Sesekali ia tertawa kecil saat Julian menanggapi dengan candaan konyol tentang bagaimana dia akan menjadi pencicip nomor satu yang paling setia.
"Kau hanya perlu pulang, Sayang," suara Julian terdengar lembut, rendah, dan penuh kerinduan yang seolah nyata. "Jakarta terasa sepi tanpamu. Aku bahkan lupa rasanya bahagia kalau bukan karena mendengar suaramu setiap malam."
Nana tersipu, pipinya yang pucat karena udara dingin mendadak hangat. "Hanya sebulan lagi, Julian. Sabarlah."
"Satu bulan terasa seperti seribu tahun bagiku, Nana. Aku merindukan setiap inci darimu. Aku mencintaimu, lebih dari apa pun."
***
Di belahan bumi yang berbeda, di sebuah apartemen yang remang-remang, Julian menyandarkan ponselnya di bantal. Ia tersenyum ke arah kamera, memberikan tatapan paling meyakinkan yang ia miliki.
"Aku juga sangat mencintaimu, Nana. Cepatlah pulang," bisiknya lagi, suaranya sangat stabil, sangat manis.
Namun, di balik jangkauan kamera ponsel itu, keadaan sangat berbeda. Lengan Julian tidak sedang memeluk bantal. Tangan kirinya bergerak perlahan, membelai rambut merah seorang wanita yang sedang bersandar di dadanya. Wanita itu terkikik tanpa suara, jarinya menelusuri tato di lengan Julian sementara pria itu terus membisikkan kata-kata cinta ke arah ponsel.
Julian mengedipkan sebelah mata pada wanita berambut merah itu, sebuah isyarat rahasia yang penuh kemenangan, sementara mulutnya masih sibuk merayu Nana dengan janji-janji masa depan yang ia bangun di atas kebohongan yang rapi.
***
Malam itu, Jakarta terasa lebih lembap dari biasanya. Nana melangkah keluar dari Bandara Soekarno-Hatta dengan membawa aroma toko roti di Paris yang masih menempel di syalnya. Di tasnya, tersimpan ijazah yang ia perjuangkan selama tiga tahun demi masa depan toko roti keluarganya—dan tentu saja, demi masa depannya bersama Julian.
Ia sengaja tidak mengaktifkan ponsel. Ia ingin melihat wajah terkejut Julian saat melihatnya berdiri di depan pintu apartemen pukul sebelas malam.
Nana memiliki kunci cadangan. Dengan jantung yang berdebar karena rindu, ia memutar kunci itu pelan. Namun, pemandangan di balik pintu bukan seperti yang ia imajinasikan selama di pesawat.
Sepasang Nike Air Jordan milik Julian terlempar berantakan, satu di dekat karpet, satu lagi menabrak dinding. Di sampingnya, sepasang sepatu hak tinggi merah menyala berukuran kecil tampak mencolok—satu tergeletak pasrah di dekat pintu, satunya lagi tersangkut di kaki rak sepatu.
Keheningan apartemen itu terasa mencekam, hanya diinterupsi oleh suara tawa rendah dan derit tempat tidur dari arah kamar. Nana melangkah, tanpa suara, seperti bayangan yang menyelinap di antara pakaian yang berserakan di lantai: kemeja Julian, bra hitam, lalu celana jeans yang teronggok di depan pintu kamar yang terbuka sedikit.
Melalui celah pintu, dunia Nana runtuh. Di bawah temaram lampu nakas, ia melihat Julian. Pria yang setiap malam meneleponnya dengan kata-kata rindu itu kini sedang mendekap erat seorang wanita berambut merah. Wanita itu bergerak liar di pangkuan Julian, sebuah pemandangan intim yang seharusnya menjadi hak eksklusif Nana setelah bertahun-tahun menunggu.
PRANG!
Bungkusan berisi makaron warna-warni dan miniatur Menara Eiffel dari Paris jatuh dari tangan Nana. Suaranya tidak keras, namun di tengah pergulatan keringat itu, suara tersebut seperti ledakan bom atom.
Dua pasang mata menoleh serentak. Wajah Julian yang semula penuh gairah mendadak pucat pasi, seperti melihat hantu.
"Nana?" suaranya serak, bergetar antara kaget dan rasa bersalah yang instan.
***
Waktu seolah membeku. Julian tersentak, matanya membelalak lebar saat menangkap sosok Nana berdiri di ambang pintu yang remang-remang. Wanita berambut merah di pangkuannya pun terhenti, menatap Nana dengan tatapan antara terkejut dan tidak peduli.
"Nana? Kau... sejak kapan kau di sini?" Suara Julian serak, bergetar hebat. Ia berusaha melepaskan diri dari dekapan wanita itu, namun gerakannya kikuk dan memalukan. "Nana, dengarkan aku. Ini... ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa jelaskan."
Julian merangkak ke tepi tempat tidur, mencoba meraih tangan Nana. Wajahnya memerah, penuh keringat dan kepanikan yang menjijikkan. "Sayang, aku... aku hanya merasa kesepian. Hubungan jarak jauh ini sangat berat buatku, tapi aku tetap mencintaimu! Tolong, jangan pergi dulu!"
Nana hanya berdiri di sana. Pipinya pucat pasi, seperti porselen yang retak. Matanya yang biasanya hangat kini menatap Julian seolah pria itu hanyalah onggokan sampah yang baru saja ia temukan di pinggir jalan.
Nana tidak mengeluarkan satu kata pun. Tidak ada makian, tidak ada pertanyaan "Mengapa?", bahkan tidak ada isakan yang terdengar. Ia hanya menghapus satu tetes air mata yang jatuh ke pipinya dengan gerakan kasar dan dingin.
Keheningan Nana terasa lebih berat daripada guntur. Ia menatap Julian satu kali lagi—tatapan terakhir yang seolah mengatakan bahwa Julian tidak lagi berharga bahkan untuk sebuah kata-kata kemarahan.
Nana berbalik. Ia melangkah pergi dengan punggung tegak, meninggalkan makaron-makaron yang hancur di lantai.
"Nana! Tunggu! Nana!" teriak Julian. Ia hendak berlari mengejarnya, namun wanita berambut merah itu melingkarkan lengannya di pinggang Julian dari belakang, menahannya di tempat tidur.
"Biarkan saja dia, Jules," bisik wanita itu dengan nada rendah yang beracun. "Kau bilang padaku kau sudah lama ingin mengakhirinya, kan? Sekarang dia sudah melakukannya untukmu. Tetaplah di sini."
Julian ragu sejenak, menatap pintu yang terbuka lebar, tapi tarikan wanita itu lebih kuat dari rasa bersalahnya yang dangkal. Ia tidak mengejar. Ia membiarkan Nana menghilang di balik pintu lift yang tertutup rapat.
***
Carlos sedang menimbang tepung dengan presisi seorang pemahat saat ia mendengar suara pintu toko berdenting pelan. Ia tahu itu bukan pencuri—pencuri tidak akan menutup pintu sehati-hati itu. Ia juga tahu itu bukan ayah Nana.
Lalu, ia menciumnya. Aroma parfum floral lembut yang bercampur dengan udara dingin malam, aroma yang selama tiga tahun ini hanya mampu ia bayangkan melalui surat-surat singkat atau video toko.
Carlos membeku di balik meja marmernya. Ia melihat Nana. Gadis itu tidak berlari ke arahnya; ia justru merosot, jatuh terduduk di dekat kaki meja dapur, memeluk lututnya sendiri. Bahunya berguncang hebat, dan suara isakan yang tertahan mulai memenuhi ruangan yang biasanya hanya diisi oleh suara mesin pengaduk adonan.
Di dalam dadanya, Carlos merasa dunianya terbelah. Pria itu ingin sekali melangkah maju, berlutut di depan Nana, dan menghancurkan siapa pun yang telah membuat gadis itu hancur. Ia sudah mencintai Nana sejak gadis itu masih mengenakan seragam putih-biru, sejak Nana pertama kali memintanya mengajarkan cara memecahkan telur tanpa merusak kuningnya.
Namun, Carlos sadar diri. Ia hanya seorang buruh migran yang setia. Ia adalah tangan kanan ayahnya, bukan pangeran dalam dongengnya. Baginya, mencintai Nana adalah ibadah yang paling sunyi.
Carlos menarik napas dalam, mengeraskan rahangnya, lalu melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia tidak menawarkan pelukan. Ia justru meletakkan wadah tepungnya dengan dentum keras ke atas meja.
"Kau menghalangi jalan menuju oven, SeƱorita," suara Carlos pecah di udara, dingin dan tajam seperti pisau roti.
Nana tersentak, mendongak dengan mata yang merah dan bengkak. "Carlos? Aku... aku hanya..."
"Aku tidak peduli kau hanya apa," potong Carlos tanpa ampun, meskipun matanya perih melihat air mata di pipi Nana. "Dapur ini bukan tempat untuk drama picisan. Aku punya biang roti yang harus segera diurus, dan kau berdiri di sana menyebarkan aura negatif. Roti-rotiku bisa mencium bau kesedihan, dan mereka akan menolak untuk mengembang."
Carlos berjalan melewati Nana, sengaja membuat langkah kakinya terdengar kasar. Ia berhenti di dekat rak loyang, memunggungi Nana agar gadis itu tidak melihat tangannya yang sebenarnya sedikit gemetar karena menahan amarah pada pria yang menyakiti Nana.
"Berdiri, Nana. Hapus air matamu atau keluar dari sini. Jika kau ingin menangis sampai mati, lakukan di kursi pelanggan di depan. Jangan di dapurku. Aku tidak mau roti besok pagi terasa asin karena air matamu."
Ia tahu ia jahat. Tapi bagi Carlos, ini adalah satu-satunya cara agar Nana tetap tegak.
Nana masih sesenggukan, namun ia berusaha bangkit sambil memegang pinggiran meja marmer. Ia terbiasa dengan lidah tajam Carlos. Sejak remaja, Carlos adalah satu-satunya orang yang tidak akan memanjakannya jika ia melakukan kesalahan pada adonan roti. Namun, Carlos juga satu-satunya orang yang akan tetap di dapur bersamanya sampai jam tiga pagi hanya untuk memastikan Nana tidak merasa gagal sendirian.
"Maaf," bisik Nana serak. Ia berbalik hendak melangkah keluar dari dapur dengan bahu yang lunglai.
"Tunggu."
Suara Carlos memberat, kali ini tanpa nada sinis. Nana berhenti, tapi tidak berani menoleh.
Carlos menghela napas panjang. Ia meletakkan scraper adonannya, lalu berjalan mendekat. Ia tidak memeluk Nana—meski seluruh sel di tubuhnya berteriak untuk menarik gadis itu ke dalam dekapannya dan menyembunyikannya dari dunia. Baginya, Nana adalah permata di rumah ini, dan ia tak akan membiarkan tangannya yang penuh noda tepung mengotori permata itu.
Carlos mengulurkan tangan, lalu dengan gerakan yang sangat singkat dan kaku, ia menepuk pundak Nana. Tepukan itu berat, mantap, seolah mengatakan: Aku di sini. Kau tidak akan jatuh lebih dalam.
Tak berhenti di situ, Carlos menggerakkan tangannya ke atas, mengusap pelan ubun-ubun Nana selama satu atau dua detik. Itu adalah gestur yang sering ia lakukan sepuluh tahun lalu saat Nana menangis karena lututnya terluka, dan entah bagaimana, kehangatan tangan Carlos seolah menyedot keluar rasa sakit di kepala Nana.
"Duduklah di kursi itu," perintah Carlos, suaranya kembali datar tapi lebih lembut.
Carlos berjalan ke arah oven kecil yang selalu ia gunakan untuk eksperimen. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah roti manis berbentuk simpul yang masih mengepulkan uap. Ia meletakkannya di atas piring kecil, lalu menyodorkannya pada Nana tanpa menatap matanya.
"Makan. Ini resep baru. Isinya cokelat hitam dan sedikit garam laut. Pahit dan manis, sama seperti hidupmu malam ini," gumam Carlos sambil kembali ke mejanya. "Habiskan, lalu tidur di kamar atas. Besok pagi kau harus membantuku. Aku tidak menerima asisten yang matanya bengkak seperti disengat lebah."
Nana menggigit roti itu. Cokelat panas yang lumer di lidahnya memberikan rasa nyaman yang instan. Di balik punggung Carlos yang lebar dan sikapnya yang seolah tak peduli, Nana tahu ia sedang dijaga. Carlos tidak perlu kata-kata puitis seperti Julian; Carlos cukup ada di sana, dengan roti hangat dan usapan singkat di kepalanya, untuk membuat Nana merasa bahwa dunia belum benar-benar berakhir
***
Pagi itu, matahari baru saja mengintip di sela-sela jendela toko. Aroma ragi dan mentega yang terbakar memenuhi udara, mencoba mengusir sisa-sisa kesedihan malam tadi. Nana sedang menata beberapa baguette di rak depan saat ponsel Carlos yang tergeletak di meja marmer bergetar hebat.
Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk. Nama "Vanessa ❤️" muncul dengan foto latar belakang yang membuat Nana terpaku sejenak. Di foto itu, Carlos terlihat jarang-jarang tersenyum lebar, merangkul seorang wanita cantik dengan wajah bersahaja yang sedang tertawa ke arah kamera. Mereka terlihat begitu... tenang. Begitu solid.
Carlos segera menghampiri ponselnya. Saat ia meraih benda itu, kalung perak yang ia kenakan sedikit terjuntai keluar dari balik kaos hitamnya. Di sana, menggantung sebuah cincin polos yang berkilau terkena lampu dapur. Cincin yang menjadi pengingat bisu bahwa di dunia Carlos, kesetiaan bukanlah sebuah pilihan, melainkan harga mati.
"Ya, Sayang. Aku masih di toko. Aku akan pulang jam sepuluh untuk menjemputmu," suara Carlos melunak drastis. Tidak ada sarkasme, tidak ada nada dingin. Hanya ada nada seorang pria yang tahu persis ke mana hatinya pulang.
Nana mengalihkan pandangan dengan dada yang terasa sesak, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia merasa iri, sekaligus kagum.
Vanessa adalah wanita paling beruntung di dunia, pikir Nana dalam hati. Dia tidak perlu bangun setiap pagi dengan rasa takut dikhianati. Dia memiliki pria yang bahkan saat wanitanya tidak ada di dekatnya, tetap menjaga janji itu dengan cara yang paling terhormat.
Kesadaran itu menghantam Nana: Julian menghancurkan kepercayaan dirinya, tapi Carlos—dengan segala keterbatasannya—justru membangun kembali standar Nana tentang apa itu pria bermartabat.
Keheningan pagi itu pecah saat suara rem mobil yang dipacu cepat terdengar di depan toko. Julian keluar dari mobilnya, penampilannya berantakan—rambut acak-acakan dan kemeja yang masih kusut dari semalam. Ia mencoba menerobos masuk, tapi Carlos sudah berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan seperti tembok beton.
"Nana! Aku tahu kau di dalam! Tolong, beri aku lima menit!" teriak Julian dari luar pintu kaca.
Carlos tidak bergeming. Ia melipat lengannya di dada, matanya menatap Julian dengan tatapan menghina yang paling dalam.
"Kau salah alamat, Nak," ucap Carlos, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Toko ini hanya menjual roti untuk manusia, bukan untuk anjing yang tidak tahu cara menghargai tuannya."
"Jangan ikut campur, Carlos! Ini urusanku dengan Nana! Kau hanya karyawannya!" balas Julian, mencoba mendorong bahu Carlos.
Carlos tidak bergerak seinci pun. Ia justru maju satu langkah, membuat Julian terdesak mundur. "Aku memang karyawannya. Tapi aku juga yang menjaga tempat ini tetap bersih. Dan bagiku, kau adalah noda yang paling kotor."
Carlos melirik ke arah Nana yang berdiri mematung di dalam, lalu kembali menatap Julian. "Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaranku. Seorang pria yang tidak bisa menjaga kesetiaan saat kekasihnya berjuang di negeri orang, tidak punya hak untuk menginjakkan kaki di tempat suci ini. Pergi, sebelum aku membuat wajahmu selembut adonan yang baru kupukul."
Julian akhirnya pergi setelah gertakan terakhir Carlos. Suara deru mobilnya yang menjauh meninggalkan keheningan yang melegakan di depan toko. Carlos menghela napas, merapikan celemeknya, dan berbalik menatap Nana yang masih berdiri mematung di balik etalase.
"Sudah selesai," kata Carlos pendek. "Sekarang kembali ke dapur. Adonan croissant tidak akan melipat dirinya sendiri."
Beberapa jam kemudian, saat aroma mentega sedang harum-harumnya memenuhi ruangan, lonceng pintu berbunyi. Seorang wanita dengan gaun musim panas yang sederhana masuk. Senyumnya cerah, membawa energi positif yang seketika menghapus sisa-sisa ketegangan pagi itu. Vanessa.
"Carlos!" panggilnya lembut.
Carlos mendongak, dan untuk pertama kalinya Nana melihat wajah pria Latin itu melunak sepenuhnya. Carlos menghampiri Vanessa, memberikan kecupan singkat di keningnya—sebuah gestur yang dilakukan tanpa perlu pamer, namun sarat akan kepemilikan dan rasa hormat.
"Nana," Vanessa melambai ke arah Nana. Mereka pernah berbicara beberapa kali lewat video call saat Nana di Paris, tapi bertemu langsung terasa berbeda. Vanessa berjalan mendekat ke area dapur, matanya berbinar melihat Nana. "Oh, Nana! Kau jauh lebih cantik daripada di layar ponsel. Carlos selalu bercerita betapa hebatnya kau di Paris."
Nana tersenyum canggung namun tulus. "Terima kasih, Vanessa. Dan... terima kasih sudah meminjamkan Carlos untuk menjaga toko ini semalaman."
Vanessa tertawa kecil, ia menyentuh lengan Nana dengan ramah. "Dia memang keras kepala kalau soal roti, tapi hatinya sangat baik. Aku senang kau sudah pulang. Carlos bilang kau akan membawa teknik baru ke toko ini, kan? Aku tidak sabar ingin mencicipinya."
Nana melirik ke arah Carlos yang sedang sibuk memindahkan loyang, lalu kembali menatap Vanessa. Ada rasa damai melihat hubungan mereka. Tidak ada drama, tidak ada rahasia. Hanya dua orang yang saling mendukung.
"Ya," jawab Nana, kali ini suaranya mantap. "Aku akan memulai teknik laminating adonan pagi ini."
***
Saat Vanessa duduk di meja depan menunggu Carlos bersiap pulang, Carlos menghampiri Nana satu kali lagi. Ia meletakkan rolling pin kayu di depan Nana.
"Kau melihatnya, kan?" tanya Carlos tanpa menoleh ke arah Vanessa.
"Apa?" tanya Nana.
"Pria sejati tidak memberikan janji yang manis, Nana. Dia memberikan kepastian." Carlos menatap Nana dalam-diam, sebuah tatapan yang mengakui bahwa Nana adalah wanita yang luar biasa, namun ia adalah pria yang sudah memilih tempat berlabuhnya. "Jangan pernah merendahkan standar dirimu lagi demi pria yang tidak tahu cara menjaga satu hati."
Carlos menepuk pundak Nana terakhir kalinya sebelum melepaskan celemeknya dan berjalan menghampiri Vanessa. Nana memperhatikan mereka keluar dari toko, bergandengan tangan, menghilang di balik keramaian jalanan Jakarta.
Nana menarik napas panjang. Aroma ragi di dapur itu kini terasa jauh lebih manis daripada parfum mana pun di Paris. Ia mengambil adonan di depannya, mulai menggilasnya dengan tenaga yang baru. Julian mungkin telah mengambil waktunya selama tiga tahun, tapi dia tidak berhasil mengambil masa depan Nana.
Di dapur ini, di antara tepung dan kehangatan oven, Nana akhirnya pulang.

Comments